Transformasional
Inikah jantung kita, Indonesia…?

Inikah jantung kita, Indonesia…?

Mereka menikmati keindahan pagi, yang hangat dan ramah. Kebahagian dan keceriaan telah didapatkan. Namun, setelah itu apa yang mereka lakukan telah melukai kebaikan umum.

Suatu pagi, lupa pada tanggal berapa, bersama sebagian mahasiswa saya di Sosiologi UA (Universitas Airlangga) melakukan kegiatan kampanye anti korupsi di Taman Bungkul Surabaya. Seperti biasa, hari minggu pagi pukul 06.00-09.00 adalah car free day di taman tersebut. Warga berduyun, olahraga, bersepeda, senam bersama atau jalan-jalan santai. Sembari tentunya, menikmati makanan ala Surabaya.

Mereka berbahagia. Saya melihat setiap wajah dibalut senyum, dan udara direnyahi tawa canda. Setiap sudut jalan selalu ada aktivitas menggembirakan. Ada yang membawa binatang-binatang peliharaan, senam zumba, membawa sepada antik, beratraksi kesenian, menyebar informasi dengan leaflet atau sekedar duduk melepas lelah usai bersepeda bersama keluarga.

Saya mengalir kedalam simfoni yang harmoni, berdenting bening. Seperti tarian angsa di musim semi. Akan tetapi, ketika waktu bergulir, pemandangan menusuk hati mulai bermunculan. Seperti melihat setetes racun jatuh kedalam segelas susu. Sebagian besar. Setelah minum, kemasan gelas plastinya dibuang begitu saja. Kertas-kertas leaflet atau koran bertebaran di ruas jalanan. Putung rokok tertebar dan terselip.

Awalnya benderang, tiba-tiba terasa suram. Saya memungut tas plastik. Memasukkan sampah tersebut kedalamnya. Satu per satu. Kemudian, tatapan aneh tertuju pada saya. Mahasiswa saya? Mereka kemudian ikut melakukannya. Saya tidak meminta ikut serta, sebab sudah terlalu banyak nasehat yang melapisi struktur pengetahuan mereka. Jadi, entah karena keterpaksaan atau karena sungguh peduli, biarlah waktu yang menguji dalam kehidupan anak-anak masa depan tersebut.

Mengapa bisa demikian? Maksud saya, mengapa mereka hanya peduli pada kesenangan sendiri. Memanfaatkan apa yang ada di hadapannya untuk urusan diri, keinginan subyektif untuk bahagia. Hadir dan bermain di tempat bersih, indah dan interaktif seperti Taman Bungkul sudah tentu memberi kebahagiaan pada diri sendiri. Akan tetapi setelah kebahagiaan tergapai, setelah mendapatkan cinta dari Taman Bungkul yang tulus, lalu membalasnya dengan cara mengotorinya.

Apakah benar masyarakat ini telah terjangkiti virus ketidakpedulian, egoisme, selfis, dan segudang virus seperti itu? Pertanyaan ini menjalar ke berbagai fenomena dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Hanya peduli pada kebahagiaan sendiri, hanya fokus pada kebutuhan sendiri. Dan abai, melupa secara sengaja, pada kebaikan umum. Para pemimpin politik, pengusaha, kaum profesional, pekerja atau para pengajar di lembaga pendidikan hanya mengurus atau mengejar keinginan sendiri?

Inikah jantung kita, Indonesia? Jantung yang berprinsip pada keuntungan diri sendiri, hanya peduli pada kesenangan sendiri. Walaupun pada hukum sejarah peradaban manusia, jantung seperti itu selalu menjadi awal kehancuran, kerusakan, dan kegelapan. Kondisi yang setiap manusia mungkin akan sulit untuk menemukan bahkan hanya sekedar setitik bahagia.

Lalu, sampailah pertanyaan pada diri sendiri. Apakah telah menjadi manusia yang peduli pada kebaikan umum. Sebagaimana dulu ibu pernah berkata ketika saya kecil “Menjadi manusia, jangan pernah hanya peduli pada diri sendiri sebab itu tidak terhormat”.

Sobats, bagaimana? (Sang Chef-Novri Susan)

Comments

comments

Share this Story

Related Posts

About Me


Saya adalah sosiolog pada Universitas Airlangga, sekaligus praktisi bidang pelatihan sumberdaya manusia dan branding. Gelar akademik saya raih. Namun saya sering disebut sebagai 'chef' ketika memberi konsultasi, kuliah, seminar, dan pelatihan. Sebab saya selalu melibatkan rasio, nilai dan seni kedalam setiap aktivitas kehidupan. Saya didaulat sebagai -sang chef- bagi perubahan dan transformasi kehidupan. (Sang Chef)

Follow Me

Facebook