Branding
Mengelola unsur simbol pada branding

Mengelola unsur simbol pada branding

Sobats, saya sajikan masakan kali ini sesuai janji sebelumnya tentang manajemen simbol pada branding. Tema ini sangat penting sebab terkait, nantinya, strategi menciptakan proses branding dari obyek (produk/individu/institusi). Proses branding memiliki tujuan fundamental, yaitu memberi nilai berbeda melalui unsur-unsur simbol yang dipilih agar mengonstruksi makna konten, makna kepercayaan dan makna loyalitas.

Sebagian kalangan menilai jika simbol berhasil mendapatkan ketiga makna tersebut, maka telah menjadi merk. Artinya obyek yang mendapatkan proses branding telah menjadi merk yang langsung dipahami kualitasnya, dipercayai keberadaannya, dan terus menjadi pilihan. Sebagaimana Honda atau I-phone telah menjadi merk setelah unsur-unsur simbol dari obyek (produk otomotif) berhasil mengonstruksi ketiga makna tersebut dari masyarakat.

Unsur-unsur simbol merupakan bagian-bagian penting baik dalam bentuk ‘kata’, ‘gestur’, ‘suara’, dan ‘visualisasi gambar’ (image). Nah sobats, jika ada ada obyek, baik dalam bentuk produk, insititusi maupun individu, maka unsur-unsur simbol harus bekerja secara optimal agar bisa meraih ketiga makna simbol yang sukses ter-branding.

Saya perlu menggarisbawahi bahwa mengelola unsur-unsur simbol berarti mengelola ‘kata’, ‘gestur’, ‘suara’, dan ‘visualisasi gambar’ (image). Setiap unsur memiliki peranan berbeda, satu atau dua unsur mungkin sangat dominan dan unsur lain sebagai pelengkap. Proses mengelola unsur-unsur simbol tersebut akan mendasarkan diri pada proses kreatif dan kepekaan terhadap apa yang menjadi ‘batin’ masyarakat.

Pengelolaan unsur-unsur simbol pada artikel ini saya maksudkan sebagai proses memilih, memutuskan dan menggunakan keempat unsur simbol tersebut di atas.

1. Pemilihan ‘kata’, ‘gestur’, ‘suara’, dan ‘visualisasi gambar’ (image) pada obyek branding merupakan proses sistematis dan dinamis antara kerja ilmiah dan seni (art). Proses memilih unsur-unsur simbol bisa dilakukan melalui beberapa metode diantaranya riset sosial lapangan (field social reserach), analisis satu arah atau analisis diberikan oleh tim tanpa riset sosial lapangan, dan trial and error. Walaupun pada kasus-kasus branding yang sukses kerja riset sosial lapangan dibutuhkan sampai menemukan simbol yang berkualitas.

Kombinasi unsur simbol seperti antara ‘kata’ dan ‘visualisasi’ gambar harus menciptakan makna secara mendalam. Namun penjelasan lebih detail akan saya paparkan secara lebih khusus lagi tentang ‘mengelola kata’, ‘mengelola gestur’, ‘mengelola suara’, dan mengelola ‘visualisasi gambar’. Masing-masing unsur membutuhkan penjelasan yang lebih detail.

2. Keputusan terhadap unsur-unsur simbol. Proses branding harus mampu mengambil keputusan tepat unsur-unsur branding apa yang paling relevan untuk mendapatkan makna branding (konten, kepercayaan dan loyalitas). Salah satu metode paling baik agar keputusan nantinya terhadap unsur-unsur simbol yang dipilih tidak gagal adalah melalui metode simulasi.

Metode simulasi pada pilihan unsur simbol pada obyek branding dilakukan dengan cara meminta pendapat (survey) pada para individu di luar perusahaan. Para individu tersebut dipilih secara acak namun sederhana. Nah sobats, pengalaman saya memberi konsultasi pada pemilihan unsur simbol pada obyek branding, seringkali hasil dari simulasi ditolak oleh pemilik obyek branding (manajerial atau direktur perusahaan). Itu kesalahan fatal.

Saya perlu mengingatkan bahwa unsur simbol pada obyek branding nantinya merupakan milik masyarakat. Cita rasa, harapan, atau kecintaan pada simbol branding bisa sangat berbeda dari persepsi pemilik obyek branding.

Saya akan menjelaskan dan memberi beberapa contoh dari ‘simulasi unsur simbol’ pada artikel berbeda.

3. Penggunaan unsur simbol sebagai strategi branding. Unsur simbol biasanya dalam bentuk logo dan slogan (tag line) yang dilengkapi oleh unsur suara dan gestur melalui penayangan iklan. Proses penggunaan unsur simbol sesungguhnya harus melandaskan pada konsistensi bentuk, intensitas sosialisasi, keyakinan diri dan modal finansial.

Ketiga landasan tersebut harus tersedia agar penggunaan unsur branding yang terpilih mampu membangun makna-makna yang diharapkan (konten, kepercayaan, dan loyalitas).

Sobats, demikian artikel mengelola unsur-unsur simbol pada obyek branding. Semoga bermanfaat. -Salam chef-

Comments

comments

Share this Story

Related Posts

About Me


Saya adalah sosiolog pada Universitas Airlangga, sekaligus praktisi bidang pelatihan sumberdaya manusia dan branding. Gelar akademik saya raih. Namun saya sering disebut sebagai 'chef' ketika memberi konsultasi, kuliah, seminar, dan pelatihan. Sebab saya selalu melibatkan rasio, nilai dan seni kedalam setiap aktivitas kehidupan. Saya didaulat sebagai -sang chef- bagi perubahan dan transformasi kehidupan. (Sang Chef)

Follow Me

Facebook