Dunia kehidupan masyarakat berisi interaksi-interaksi diantara individu. Interaksi antar dua atau lebih individu menjadi salah satu unsur fundamental dari dinamika kemasyarakatan, baik pada dimensi ekonomi, politik dan sosialitas.
Simbol secara definitif, berdasar ilmu sosiologi, merupakan bahasa dalam bentuk kata-kata, suara, gestur tubuh, maupun visualisasi citra (image visualization). Setiap individu selalu menciptakan simbol dalam proses interaksi dan sekaligus menerima serta memberi makna pada simbol yang diperoleh dari pihak lain.
Interaksi para individu menggunakan simbol sebagai bahasa yang memiliki makna-makna spesifik. Setiap simbol mampu memberikan makna terhadap individu yang menerimanya. Namun apakah simbol dari individu pemilik atau pengirim bisa menciptakan makna yang diharapkan terhadap individu penerima simbol? Tidak seratus persen.
Jacky berpakaian rapi, berdasi, dan bersepatu pantofel berarti sedang membawa simbol dalam dirinya. Simbol tersebut dikirim pada individu-individu yang berinteraksi dengannya, baik secara aktif (kontak langsung) maupun pasif (pengamatan).
Jacky memiliki harapan makna, misal dia ingin dimaknai sebagai eksekutif muda. Ratna mungkin memberi makna bahwa simbol yang dibawa Jacky adalah seorang eksekutif muda, bekerja pada perusahaan atau pemerintahan. Namun Sinta bisa saja memberi makna Jacky sebagai salesman produk.
Mengapa pemaknaan terhadap simbol bisa berbeda?
Ada beberapa penyebab dari perbedaan makna atas simbol yang ada, yaitu (1) tingkat kompleksitas simbol dan (2) posisi pemakna simbol.
1. Kompleksitas simbol merupakan susunan simbol yang mampu meraih tingkat keumuman makna dengan cara menyediakan unsur-unsur simbol secara lengkap sesuai pandangan umum masyarakat. Misal Jacky, selain berpakaian rapi, berdasi, bersepatu pantofel, dirinya juga memasukkan unsur simbol lain yang lebih lengkap agar bisa mendapat makna sebagai seorang eksekutif muda. Simbol tersebut bisa dalam bentuk jam tangan bermerk, gestur tubuh sebagaimana biasa para eksekutif muda melakukan, dan kandungan bahasa yang menjadi tanda pendidikan dan atau posisi kelas.
Makin mampu menciptakan dan membawa kompleksitas simbol, makna yang diharapkan bisa diterima oleh individu-individu yang lain. Namun, kompleksitas simbol belum tentu sukses sebab hal ini juga tergantung dari posisi pemakna simbol.
2. Posisi pemakna simbol dalam pengertian posisi dalam kelas sosial, baik secara ekonomi, status, dan pendidikan. Setiap posisi pemakna simbol memberi pengaruh makna apa yang akan terbangun. Jika Ratna seorang perempuan lulusan SMP, banyak tinggal di desa, dan tidak sering bergaul bisa saja Jacky tidak perlu menggunakan kompleksitas simbol untuk disebut sebagai eksekutif muda.
Lain halnya Sinta, jika posisi sosial dia secara pendidikan tinggi, berada pada kelas ekonomi mapan, atau juga sebagai seorang eksekutif muda maka Jacky membutuhkan kompleksitas simbol dalam dirinya.
Nah, sobats artikel tentang simbol dan makna ini merupakan dasar dari strategi branding. Bagaimana cara menggunakan konsep ini untuk branding? Saya akan jelaskan pada artikel selanjutnya.* Sang-chef.