Branding
Desa Mliwang, tidak kalah dari Desa Naruto

Desa Mliwang, tidak kalah dari Desa Naruto

Desa Mliwang berada di lereng bukit kapur berimbun pohonan tua. Seluruh rumah penduduknya tidak ada yang menghadap ke utara dan barat. Penataan rumah-rumah warga desa di Kota Tuban Jawa Timur ini telah berusia kuno. Tidak ada yang tahu pasti. Namun, usia desa diperkirakan oleh tokoh desa mencapai lebih dari 500 tahun.

monumen kebudayaan

Menurut penduduk desa, rumah menghadap ke utara dan barat bisa menyebabkan bencana baik pada perorangan maupun masyarakat. Sudah beberapa kejadian, warga yang melawan tradisi tersebut mendapatkan musibah, termasuk kematian.

Apabilan menelusuri Desa Mliwang, rumah-rumah tertata rapi. Saya sendiri terpikir, secara sederhana, mungkin para leluhur di desa yang menjadi pusat buah sukun ini memaksudkan penataan desa yang rapi, tidak berantakan. Caranya melalui pengaturan arah rumah. Apalagi apabila saya bandingkan dengan beberapa desa tetangga, Desa Mliwang dalam tata lingkungan perumahan terskesan lebih rapi. Namun ini hanya tafsiran.

Keunikan Desa Mliwang tidak hanya itu. Sebab, perbukitan kapur yang ditutupi pohonan tua tampak hijau. Setelah berbincang dengan beberapa warga, mereka menunjukkan tempat yang dianggap keramat. Maqom (pusara) dari seorang tokoh agama Islam. Usia maqom setua Desa Mliwang. Terlintas di benak, pada abad ke-16 ketika Majapahit mendapatkan pengaruh dari agama Islam, desa ini mungkin salah satu wilayah penting dalam persebaran ajaran Islam.

Petilasan maqom dari syaikh Syaid Abdullah, seorang penyiar agama yang menurut penduduk desa berasal dari Persia. Maqom tersebut terletak di atas bukit di belakang desa. Waktu itu usai hujan, suasan sejuk dan sendu. Seorang tokoh desa, Wasno, yang menjadi semacam juru kunci petilasan membawa saya ke sana. Menurut lelaki usia setengah baya itu, tidak sedikit yang datang ke petilasan pada hari senin dan kamis malam. Mereka ziarah dan mengenang orang saleh tersebut.

Berkendara motor menuju lokasi petilasan hanya bisa mengantar sampai jalan aspal. “Kita harus jalan kaki” kata Pak Wasno sambil tersenyum renyah. Setelah memarkir kendaraan, saya mengikutinya berjalan. Saya takjub pada pemandangan sekitar. Tidak kalah dengan desa-desa di Kyoto Jepang yang terkenal dengan perawatan lingkungan alamnya. Agak mirip memang, saya tahu sebab pernah di Jepang hampir empat tahun.

Kandang sapi berdempetan dengan rumah

Kandang sapi berdempetan dengan rumah

kejelitaan apa adanya

Berjalan di atas jalan aspal kecil, perlahan. Kanan kiri adalah rumah penduduk dengan cirinya. Beberapa warga terlihat beraktivitas, selalu tersenyum dan ramah nian. Saya lihat kandang sapi dan kambing masih berdampingan atau menyatu dengan rumah. Pada satu sisi pemandangan itu menyaji eksotisme pedesaan. Lugu dan menyatu dengan alam. Jelita apa adanya.

Pak Wasno tibat-tiba berhenti. Ia menunjukkan lokasi petilasan, Harus menaiki tangga, sampai lokasi sekitar seratus lima puluh meter. Cukup menanjak. Langsung saja, mengelus perut yang sudah satu pack ini. Siapa tahu sampai atas kembali menjadi six pack. Saya menaiki tangga, perlahan saja. Sekitar adalah hutan kecil, pohonan yang sudah berusia tua sekali. Ada pohon jati dan ringin yang bisa saja berusia satu abad.

2015-02-02 00.37.03

Rumputan berbaur bersama pohonan, tetesan sisa hujan tampak mungil bergelayutan di ujung ranting dan daunan. Saya bersuka cita sekali. Walaupun kaki mulai terasa pegal. Tidak lama, hanya sepuluh menit sampai ke petilasan. Bangunan rumah kecil, sangat sederhana menjadi tanda bahwa di situ berbaring abadi seorang penyiar agama yang dihoramti. Sejenak saya diam, mengurai doa bersama silir angin bukit Mliwang.

Pemandangan hijau membentang. Saya sungguh jatuh hati. Tertanam sudah di Desa Mliwang ini.

Sobats, masih banyak cerita yang ingin saya kabarkan. Namun, sebaiknya saya tulis pada artikel berbeda. Tentang Desa Mliwang, yang sejelita dia. (sang chef- Novri Susan)

 

Comments

comments

Share this Story

Related Posts

About Me


Saya adalah sosiolog pada Universitas Airlangga, sekaligus praktisi bidang pelatihan sumberdaya manusia dan branding. Gelar akademik saya raih. Namun saya sering disebut sebagai 'chef' ketika memberi konsultasi, kuliah, seminar, dan pelatihan. Sebab saya selalu melibatkan rasio, nilai dan seni kedalam setiap aktivitas kehidupan. Saya didaulat sebagai -sang chef- bagi perubahan dan transformasi kehidupan. (Sang Chef)

Follow Me

Facebook