Transformasional
Perdamaian dan simbol

Perdamaian dan simbol

Saya telah menjelaskan sebelumnya pada artikel berbeda bahwa konflik mungkin dipraktikkan secara kekerasan maupun nir-kekerasan atau damai (cek https://novrisusan.com/2014/09/18/mengapa-perlu-sensitif-konflik/). Artikel ini akan memberi fondasi penting dari konsep perdamaian. Bahasa penulisan kali ini akan lebih filosofis, membutuhkan refleksi imajinatif.

Perdamaian merupakan kata yang merepresentasikan dua hal, yaitu makna sakralitas dan ideal kebahagiaan hidup. Masyarakat-masyarakat dunia dalam alur sejarah klasiknya mengintegrasikan diri mereka kedalam makna-makna sakral tentang eksistensi kehadiran manusia di dunia kehidupan dan alam semesta.

Eksistensi kehadiran manusia yang muncul melalui pertanyaan mengenai siapa diri manusia di tengah alam semesta yang luas. Pertanyaan mendasar yang menjadi awal mula bagaimana kesakralan dan kebahagiaan hidup diterjemahkan dalam usaha-usaha manusia.

Usaha-usaha pencapaian sakralitas dan kebahagiaan hidup tersebut diproses kedalam dunia usaha-usaha yang kompleks, penuh cerita heroik, kategorisasi benda-benda, sampai tata cara melakukan pemenuhan kebutuhan material dalam semesta alam yang menyediakan apapun yang dibutuhkan dan sekaligus menyediakan ancaman-ancaman mematikan.

Kelompok manusia klasik sebelum sejarah, kalangan modernis menyebutnya masyarakat primitif, melakukan perburuan binatang di hutan, belajar menciptakan alat (teknologi) untuk mempermudah proses penangkapan, lalu mereka mencatat pengalaman menghadapi binatang-binatang buas, mentestimoni manusia yang berani dan menyelamatkan kelompok dari bahaya-bahaya alam dalam bentuk cerita imajinatif, sampai melakukan pembagian tugas-tugas keseharian kelompok seperti siapa harus berburu dan siapa harus menjaga rumah.

Dunia usaha-usaha manusia menjadi pengalaman yang menumpuk dalam pikiran dan visi manusia tentang hidup mereka. Menjadi pengetahuan yang matang dan mapan mengenai kesakralan hidup mereka dan bagaimana kebahagiaan bisa diciptakan pada tingkat yang sangat individual sampai tingkat kolektif. Hakikatnya pengetahuan yang matang dan mapan tersebut adalah mode of peace (cara perdamaian) untuk mendapatkan makna sakralitas dan kebahagiaan hidup.

Mode of peace yang mengajarkan pada generasi muda mengenai kesakralan hidup mereka dan tata cara kebahagiaan harus dilakukan pada tingkat individu dan kolektif. Dimensi kesakralan hidup mengajarkan penerimaan manusia pada kekuatan yang sangat besar, tunduk dan kehidupan yang tertib di bawah kekuatan tersebut. Sedangkan dimensi tata cara kebahagiaan mengajarkan cara memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Manusia menerjemahkan makna sakral dan ideal kebahagian hidup tersebut dengan menciptakan berbagai usaha di permukaan bumi yang dianggap mampu membawa perdamaian. Usaha-usaha tersebut terus direproduksi sebagai pengetahuan yang memberi suatu cara praktek tertentu untuk mendapatkan makna sakral dan ideal kebahagiaan hidup.

Pengetahuan, tentang perdamaian, selanjutnya disosialisasikan tanpa henti dari generasi dulu ke generasi sekarang, dan ke generasi masa datang. Upaya menjaga reproduksi aktivitas perdamaian, masyarakat manusia menempatkan pengetahuan mengenai perdamaian melalui simbol-simbol yang diagungkan dan dipelihara secara sosial. Seperti masyarakat Mesir kuno menggunakan matahari untuk menampung semua makna sakralitas dan ideal kebahagiaan hidup, atau masyarakat Inca yang menggunakan bulan purnama sebagai simbol kemakmuran dan kebersamaan sosial.

Sampai di sini, saya ingin menekankan bahwa perdamaian merupakan bagian dari sakralitas dan kebahagian hidup. Hal ini juga bermakna bahwa konflik yang ditangani melalui cara-cara perdamaian memiliki kemungkinan lebih besar menciptakan kedua unsur perdamaian itu.

Saya akan memperdalam konsep perdamaian ini secara lebih sosiologis dan implementatif melalui artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat.* -Sang Chef-

*sumber tulisan dari buku saya berjudul Pengantar Sosiologi Konflik (cetakan ketiga, 2014).

Comments

comments

Share this Story

Related Posts

About Me


Saya adalah sosiolog pada Universitas Airlangga, sekaligus praktisi bidang pelatihan sumberdaya manusia dan branding. Gelar akademik saya raih. Namun saya sering disebut sebagai 'chef' ketika memberi konsultasi, kuliah, seminar, dan pelatihan. Sebab saya selalu melibatkan rasio, nilai dan seni kedalam setiap aktivitas kehidupan. Saya didaulat sebagai -sang chef- bagi perubahan dan transformasi kehidupan. (Sang Chef)

Follow Me

Facebook