Strategi branding berarti mengelola simbol dan unsur-unsurnya agar memperoleh makna harapan dari para symbol receiver. Cara menempatkan obyek branding (produk, jasa, figur dan institusi) pada setting atau panggung yang tepat dan bentuk utama dari unsur simbol branding disebut sebagai metode branding. Berikut ulasan saya tentang metode branding.
Ada dua metode branding yang nantinya masing-masing metode diimplementasi di dalam variasi-variasi interaksi. Pertama dalah metode publisitas yang menempatkan atau mengirimkan simbol-simbol branding melalui konsep obyektivasi. Kedua adalah metode periklanan (advertising) yang secara aktif pelaku atau pemilik branding mengkampanyekan simbol branding ke masyarakat luas.
Metode publisitas berupaya menjadikan simbol sebagai perbincangan dan perhatian utama dalam masyarakat dengan tanpa pelaku branding terlihat aktif. Ada semacam adigium dalam metode ini “apa yang dikatakan orang lain lebih ampuh jika dikatakan oleh diri sendiri”.
Misal, Iteung menyatakan kepada khalayak “Toko kami adalah yang paling ramah, baik, cermat dan memuaskan”. Tentu saja, para individu yang mendengar dan memperhatikan branding kata-kata Iteung akan berpikiran “Tentu saja dipuji karena itu tokonya sendiri”. Apa dampaknya?
Sebelum saya jelaskan dampak, mari cermati contoh lain, rumah sakit ibu dan anak di Surabaya, direkturnya mengklaim “Rumah sakit kami memberi pelayanan paling profesional, canggih dan memuaskan para pasien”. Para individu masyarakat pun membatin “Cih, dasar promosi biar pasien makin banyak.”
Dampak paling menonjol adalah resistensi subyektif atau penolakan dari para individu. Sifat dasar individu adalah tidak suka melihat orang lain memuji diri sendiri. Sebagaimana perusahaan atau pelaku branding melakukannya.
Maka, metode publisitas menawarkan penedekatan berbeda. Cara agar simbol branding tidak terlihat sebagai pernyataan atau klaim subyektif pelaku branding. Salah satu bentuk metode ini adalah berita-iklan (news advertorial). Branding melalui berita-berita yang terkemas secara obyektif. Terutama dilakukan oleh media massa yang telah memiliki nilai kritis dan obyektif dalam masyarakat. Namun saya akan ulas secara lebih detail dalam artikel berbeda tentang teknik-teknik metode publisitas, baik teknik komunikasi langsung dan tidak langsung.
Metode priklanan, akan saya bahasa pada artikel seri 2 . -Sang Chef-