Branding
Luna Maya: Artemis yang tak terhenti (3)

Luna Maya: Artemis yang tak terhenti (3)

Dia yang menjaga kesuburan semesta, merawat kegelisahan, meniup asa perburuan hidup, dan menyembuhkan rasa sakit manusia, adalah Artemis. Ia berada diantara cahaya malam, meresap lembut ke relung jiwa-jiwa mereka yang mengharapnya. Luna Maya mewarisi sebagian ruh Artemis, sang dewi pemilik rembulan. Mari saya ajak menyusuri tubuh kehidupannya.

Dialah Artemis

Luna Maya setelah fase tergelap dari perjalanannya, tidak saja menyebuhkan setiap senti lukanya namun juga dari setiap hati yang memandangnya. Ia menjadi pijar menghati, simbol keyakinan, keberanian dan kerelaan menjadi bentuk baru. Setiap kali menunjukkan kehadirannya, setiap kali itu pula benih-benih baru tekad menjalani hidup tumbuh di banyak sanubari.

Maka seperti halnya Artemis yang menyembuhkan luka, panah dari berkah cahaya rembulan terus melakukan pemburuan masa depan. Luna berada di belantara modernitas yang hiruk pikuk, mengembara dan memainkan perannya. Bermain film, sinetron, menjadi presenter dan musik. Itulah dunia perburuan, dia mencontohkannya secara sempurna.

Hidup adalah dunia perburuan yang tidak boleh dihadapi secara cengeng. Artemis mengajarkan bahwa dunia itu memiliki banyak sekali bayangan kedengkian, hasut para binatang yang berbicara di sudut-sudut tak terlihat, serta jebakan-jebakan kejadian tak terduga. Oleh karenanya, tubuh, pikiran dan hati harus menyatu sebagai tindakan-tindakan yang gesit.

Setiap mata memandang, setiap itu pula degup keinginan bergerak, berkarya dan berjuang bersamanya. Memandang Luna seperti halnya memandang Artemis yang cahayanya menantang setiap gelap tanpa mundur selangkah jua. Namun, Artemis dan juga Luna tetap berpendar lembut menghangatkan, pun menggemaskan.

Namun kesunyian

Berada di dunia perburuan yang ramai, cepat dan terus berjalan seperti roda dunia, saya melihat Luna Maya sungguh sering hilang di kesunyian. Ada rongga sangat besar yang menghampa dalam hidupnya. Memandang gesturnya dalam kehidupan sehari-hari, foto-foto dan viselfie (video selfie), akan menyirat makna betapa sunyi yang tersunyi.

Bisa saja Luna menolak dan mengabaikan ini. Namun, dua belas tahun sebagai sosiolog hampir setiap prediksi saya terhadap perilaku manusia tidak meleset. Kesunyian Luna disimbolkan oleh intensitas aktivitas pribadi yang didokumentasikan secara ‘selfie’. Selain itu, sorot mata yang kadang menyala kadang menghampar hampa adalah caranya berkata “Kesunyianku ada di sini”.

Kesunyian bukanlah keadaan yang nista dan derita. Setiap jiwa selalu butuh berada di lubuk sunyi, diam dan mengendapkan peluh serta keluh dari keramaian. Akan tetapi, kesunyian tidak boleh hadir ketika berada dalam dunia perburuan. Sebab akan memancing kelahiran kesalahan, dan kecelakaan tak terbayang.

Luna Maya, berada dalam kesunyian ketika berjalan di dunia perburuan. Walaupun, dia akan menyadarinya sendiri atau orang yang menghadirkan cinta paling murni mengatakannya.

Sobats sekalian, demikian perjalanan menyusuri Luna Maya yang mewarisi ruh Artemis sang Dewi Rembulan. Saya, Anda dan siapapun harus selalu kuat, percaya diri dan yakin bahwa setiap luka bisa disembuhkan. Setiap perjalanan memiliki masa depannya. Seperti yang ditunjukkan Luna Maya, sang Dewi Artemis. -Sang Chef- (Novri Susan)

 

 

Comments

comments

Share this Story

Related Posts

About Me


Saya adalah sosiolog pada Universitas Airlangga, sekaligus praktisi bidang pelatihan sumberdaya manusia dan branding. Gelar akademik saya raih. Namun saya sering disebut sebagai 'chef' ketika memberi konsultasi, kuliah, seminar, dan pelatihan. Sebab saya selalu melibatkan rasio, nilai dan seni kedalam setiap aktivitas kehidupan. Saya didaulat sebagai -sang chef- bagi perubahan dan transformasi kehidupan. (Sang Chef)

Follow Me

Facebook