Terik matahari menimpa atap-atap rumah, di desa diantara ribuan desa di Jawa Timur. Desa yang padat penghuni. Gang-gang desa terasa sempit, dan di antaranya para bocah bermain. Mereka sepertinya kepanasan, walaupun tidak bisa menyembunyikan keriangan yang bebas. Bermain sepeda dari gang ke gang, berlari-lari kecil. Mungkin, sedang menjadi polisi hebat yang mengejar para penjahat. Mereka tampak cerdas, berayun-ayun dalam imajinasi tanpa batas. Namun, bisakah mereka nanti tumbuh sebagai masa depan ketika berada di kebun kemiskinan?
Waktu itu saya sedang melakukan perjalanan penelitian Departemen Sosiologi Universitas Airlangga. Desa yang ingin saya ceritakan, tentang bocah-bocah tersebut, berpenduduk nelayan. Saya sendiri lepas dari rombongan, berjalan dengan kamera dan sebotol minuman, membaur ke dalam nafas keseharian. Pada waktu melangkah gang-gang desa, para bocah menatap saya.
Seperti peri-peri kecil yang menggoda. Melempar senyum dan cahaya mata yang murni. Saya terus melangkah, tidak lupa mengedipkan mata kepada ketiga bocah tersebut. Mereka tertawa malu-malu, namun terus menguntit lenggang saya. Maka, saya menghentikan langkah, berbalik dan menyapa.
“Hai…kok tidak sekolah?”
“Sudah pulang…” Jawab salah satunya, yang kemudian seolah hendak melesat lari. Namun tertahan, sebab melihat saya menepuk jidat.
“Oh iya, ini sudah pukul dua sih. Kelas berapa?”
Ketiga bocah tersebut saling lempar pandangan.
“Kelas lima!!” Seru bocah lain berkaos biru.
Saya membatin, kamu ini usianya masih lima atau enam tahun tapi mengaku kelas lima. Maksud bocah itu tentu kelas 5 SD. Hati saya terkekeh. Selintas itu jawaban biasa, sering diungkapkan bocah-bocah kecil yang sering menjawab demikian. Mereka berbohong? Tentu saja. Apakah salah atau jahat? Sudah pasti tidak. Saya melihatnya sebagai kecerdasaan, sebagai kejujuran, dan adalah keajaiban dari Ilahi.
Usia seperti mereka akan menjawab apa adanya. Jika mereka sekarang sesungguhnya TK kecil atau besar, dan menjawab telah kelas 5 SD maka itu menggambarkan imajinasi yang hidup subur di bumi batiniah. Mereka ingin lekas dewasa, ingin lekas pintar dan kuat setingkat kelas 5 SD. Hal ini bermakna para bocah tersebut memiliki rancangan masa depan, cita-cita menjadi terdidik. Bayangkan, seusia mereka telah memiliki rancangan masa depan.
Ketiga bocah tersebut merupakan sumber daya manusia yang hebat. Terlahir setelah Tuhan meniupkan ruh-ruh fitrah yang dibekali akal sehat, dibekali nalar berpikir sebagai khalifah di bumi. Jika ketiga bocah tersebut adalah representasi atau mewakili para bocah di Indonesia, sungguh negeri ini tersedia bibit generasi masa depan yang tangguh dan sempurna.
Akan tetapi, seperti halnya besi baja yang berkualitas selalu membutuhkan cara dan empu yang paham agar mengubahnya menjadi pedang-pedang pusaka. Jika cara adalah sistem pendidikan, dan empu adalah para pemimpin, termasuk guru, maka pertanyaannya: ‘Apakah Indonesia telah memiliki cara dan empu yang bisa mengolah besi-besi baja tersebut menjadi pedang-pedang pusaka?’ ‘Apakah Indonesia telah memiliki sistem pendidikan dan para guru yang mampu mengolah para bocah ajaib tersebut menjadi insan-insan bangsa yang akan membangun kejayaan negeri ini?’
Pertanyaan tersebut membawa saya pada realitas kependidikan Indonesia yang masih labil. Kurikulum yang belum memanusiakan, serta sumberdaya pendidik yang masih belum kuat. Kurikulum pendidikan beroreintasi pada indikator kuantitatif seperti jumlah kelulusan, nilai formal akademik, dan pragmatisme pembentukan tenaga kerja siap pakai. Pada sisi lain, masalah perekonomian masyarakat terutapa di pedesaan menyebabkan para orang tua kesulitan memberi fasilitas dan proses optimal pada anak-anak untuk berpendidikan tinggi.
Berteduh dari terik matahari di gardu pinggir pantai, lamunan saya terhenti oleh suara tawa bocah-bocah tadi. Mereka tiba-tiba ada di dalam gardu. Entah dengan cara bagaimana mereka bisa di situ tanpa sepengetahuan sosiolog ini? Lagi-lagi saya merasa gemas. Mereka memang ajaib.
Sobats, apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini? (sang chef - Novri Susan)
@pesisirKotaTuban2014

