Lelaki itu membawa sekarung rumput di kepalanya. Berjalan pelan, satu satu menuju tempat tujuan dimana ia akan mendapat upah dari hasil ngarit rumput untuk sapi. Saya terbelalak sendiri. Saya melongo, seperti pipa kosong yang tertiup angin. Sebab lelaki itu hanya berkaki satu. Dia gigih untuk hidup terhormat. Mengapa dia bisa seperti itu? Pada saat banyak manusia, di Indonesia, yang menjatuhkan diri pada ketidkhormatan, sebagai pengemis atau pelaku korupsi.
Lelaki itu saya datangi. Namanya Ngadiman, berusia sudah 42 tahun. Walaupun dia sendiri sudah lupa kapan sebenarnya terlahir di satu desa Kota Sleman ini. Ia hanya mendapat kesempatan sekolah sampai SMP kelas satu. Setelah ayahnya wafat, ia harus keluar. Tidak ada biaya. Maka ia membantu sang ibu bekerja. Apa saja, asal tidak mengemis. Serunya lirih.
Ia kehilangan kaki sudah lama, hampir 17 tahun lalu. Ketika itu ia menjadi tukang bangunan, hujan deras dan licin membuatnya terjatuh keras dari atap. Kakinya patah, harus diamputasi. Sejak tidak memiliki kaki yang lengkap, Ngadiman memilih bekerja di sekitar lingkungan rumah. Mencarikan rumput untuk para tetangga yang memiliki sapi atau kambing.
Tidak mengemis? Tanya saya. Lelaki berkulit hitam tersebut tersenyum, lalu terkekeh. Ia menjawab hanya dengan menggeleng. Bagi saya tarikan senyum saat menggelengkan kepala, itu lebih dari cukup untuk menjawab. Ia memang tidak terdidik, dan berkaki satu namun harga dirinya memendar kuat. Saya merasakannya.
Ngadiman bertutur bahwa hidupnya terasa indah, subur oleh kebahagiaan jika keringat menetes ketika bekerja. Pernah ketika sedang berjalan seseorang wanita memberinya uang. Ia terkaget. Ia menolak baik-baik. Orang tersebut berkeras memberinya uang. Lalu ia berkata kepada wanita baik itu, “beri saya pekerjaan”. Lantas wanita itu memintanya untuk membersihkan kaca mobil samping. Setelah selesai, baru uang tersebut diambilnya.
Tidak lama berbincang dengan Ngadiman, seorang lelaki setengah baya yang tetap berjuang dengan cara seorang ksatria. Sebelum saya pamit, dia menyampaikan pesan (dalam bahasa Jawa) yang tidak akan pernah saya lupakan.
“Selama masih ada hati, hidup akan bisa dijalani”.
Saya melangkah pergi membawa kalimat itu. Hati, adalah esensi ruh kehidupan manusia. Jika sudah tidak ada hati, hidup pasti tidak akan benderang. Hidup akan serupa daun kering tertiup angin.
Sobats, melihat lelaki itu, saya tidak ingin lemah. Dia telah menjadi inspirasi hidup saya. Anugerah dari Ilahi dalam bentuk paket fisik yang lengkap dan hati akan menciptakan banyak hal kebaikan, banyak hal penting yang bisa dihadirkan. Seperti lelaki itu, Ngadiman, telah menjadi panglima bagi hidupnya, dan tak terkalahkan. Bekerja keras karena masih memiliki hati.
Sobats, semoga perjalanan Ngadiman menjadi inspirasi hidup abadi bagi perjalanan kita. (sang chef- Novri Susan)